Bekerjalah Dengan Ikhlas Hai Arsitek Muda

BE GRATEFUL

Hidup ini mudah jika kita terbuka. Terbuka melihat hal-hal kecil di sekitar kita, terbuka menerima cobaan yang sedikit menghambat perjalanan kita, terbuka dalam berpikir begitu beruntungnya kita jika dibandingkan dengan orang lain, dan masih banyak lagi keterbukaan yang harus kita lakukan dalam menyikapi hidup. Untuk selanjutnya kita perlu berterima kasih kepada Tuhan atas takdir-Nya yang  indah untuk kita. Itulah Bersyukur.

Berbeda dengan kisah ini :

Seorang arsitek memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya. Dia ingin istrahat dari bisnis perumahan dan menjalani kehidupan yang beru bersama keluraga dan anak-anaknya. Dia sudah merasa jenuh dengan pekerjaannya dan kehilangan motivasi.

Pimpinannya merasa kehilangan seorang arsiteknya yang andal. Dia meminta agar sang arsitek membuatkan satu lagi rumah sebagai kenang-kenangan. Sang arsitek menyetujuinya. Tapi karena dia sudah kehilangan motivasi, dia membangun rumah itu dengan asal-asalan. Menggunakan material yang tidak bagus.

image

Ketika pekerjaannya sudah selesai, sang arsitek mendatangi pimpinannya di kantornya. “Pak rumahnya sudah selesai, dan saya mau mengundurkan diri sekarang”, kata sang arsitek.
“Oke”, pimpinannya menyahut, “Mari kita lihat hasil pekerjaanmu”.
Saat melihat-lihat rumah tersebut pimpinannya mendekati sang arsitek dan berkata, “Ini adalah rumahmu”, sambil menyerahkan kunci rumah tersebut. “Ini sebagai hadiah dari saya atas pengabdianmu selama ini.” Sang arsitek terkejut dan tidak menyangka. Dia terharu atas pemberian dari pimpinannya. Tetapi dalam hati dia merasa malu. Dalam hati dia berkata, “Seandainya aku tahu bahwa ini adalah rumahku, maka aku akan membangunnya jauh lebih bagus lagi dari sekarang. Aku akan membangun dengan material kualitas nomor satu.” Dia menyesal dan dia akan tinggal di dalam rumah yang dia bangun sendiri dengan kualitas yang asal-asalan.
hmm… itulah sebuah penyesalan yang cukup pelik, lalu… bagaimana dengan kisah ini :

Seorang arsitek yang penuh motivasi ini sangatlah berjasa bagi Perusahaan Konseling Arsitek’nya. Sehingga Pimpinannya merasa bangga telah memiliki seorang arsitek yang andal. Sebagai hadiah atas jasanya selama ini, Pimpinannya ingin memberikan hadiah berupa rumah tinggal. Karena Pimpinannya mengetahui bahwa Arsitek berbakat ini hanya tinggal dalam sebuah rumah kontrakan kecil.

Suatu hari, proyek rumah tinggal yang dikerjakan dan ditujukan untuk sang arsitek muda yang berbakat ini telah selesai dengan sangat baik. Lalu esok harinya Pimpinanya menuju ke kontrakan tempat tinggal Arsitek ini. “tok tok toksuara ketukan pintu itu memberi kesan kesederhanaan dibandingkan dengan suara “bel yang beragam. Pintupun dibukakannya, namun ternyata bukan Arsitek muda kesayangannya, melainkan Ibunda yang sudah terlihat tua namun tetap terlukiskan senyuman diwajahnya. Lalu Ibunda dari anak berbakat itu memanggilkan anak semata wayangnya setelah mempersilahkan duduk tamunya. Setelah bertatap muka dan menyampaikan maksud dan tujuan dari kehadiran Pimpinanya tiba-tiba Ibunda merasa sangat kesal hingga ingin mengusir sang Tamu atas percakapan yang baru saja didengarnya.“Nak, proyek kemarin yang kamu buat ternyata ada yang mau membelinya.” Kata sang Pimpinan. “tapi bukannya itu buat anakku?” menyela percakapan panjang anaknya dan sang Pimpinan, yang awalnya terlihat menyenangkan. “iya bu, tapi ada sahabat saya yang menyukainya dan ingin membelinya. Saya pun tidak enak untuk menolak tawaran sahabat saya itu.” jelas sang Pimpinan. Ibunda Arsitek muda itu pun hanya terdiam dan mencoba sabar menahan kekesalannya.Terdengar pula suara merdu dari mulut sang Arsitek “Tidak apa-apa Pak, mungkin Tuhan akan berkehendak lain, pakai saja.. toh saya masih bisa menempati rumah kontrakan yang memberikan banyak sekali inspirasi untuk membangun bangunan yang lebih dewasa dari rumah ini”. Puji Syukur atas keikhlasan dan kebaikan hatinya, lalu Pimpinanya pun berterima kasih banyak dan meminta maaf atas keputusannya. dengan menyampaikan kata-kata terakhirnya sebelum meninggalkan rumah sang Arsitek muda itu ; “Nak, Semoga amal-amalmu menjadikan pondasi yang kuat bagi rumahmu di SurgaNya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s